Pendampingan UMKM Dinilai Mampu Meningkatkan Kesiapan Pelaku Usaha Mengakses Kredit
Pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menghadapi tantangan meski penyaluran kredit perbankan secara umum tetap menunjukkan tren positif. Sejumlah pengamat menilai persoalan utama bukan terletak pada terbatasnya penyaluran dana, melainkan pada rendahnya permintaan pembiayaan dari pelaku usaha.
Baca Juga “Di Forum G20, Indonesia Minta Standar AI Tak Membebani UMKM“
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa banyak UMKM belum berada pada tahap ekspansi yang membutuhkan tambahan modal dari lembaga keuangan. Akibatnya, penyaluran kredit ke sektor UMKM belum tumbuh secepat segmen kredit lainnya.
Temuan ini mendorong berbagai pihak untuk memperkuat program pendampingan usaha agar pelaku UMKM lebih siap mengembangkan bisnis, meningkatkan kapasitas produksi, serta memenuhi persyaratan memperoleh pembiayaan dari perbankan.
Permintaan Kredit UMKM Masih Rendah Meski Perbankan Tetap Menyalurkan Pembiayaan
Chief Economist Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Winang Budoyo, menjelaskan bahwa perlambatan kredit UMKM memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kondisi kredit perbankan secara keseluruhan.
Menurutnya, kredit modal kerja, investasi, maupun konsumsi masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif. Namun, segmen UMKM justru menghadapi tantangan karena rendahnya minat pelaku usaha untuk mengajukan pinjaman.
“Kondisi ini mengindikasikan ada persoalan mendasar pada segmen UMKM,” kata Winang.
Hasil survei dan focus group discussion (FGD) Perbanas menunjukkan hampir 90 persen pelaku UMKM, baik formal maupun informal, tidak mengajukan kredit karena merasa belum membutuhkan tambahan modal untuk mengembangkan usahanya.
Survei tersebut juga memperlihatkan sekitar 90 persen pembiayaan usaha masih berasal dari dana pribadi atau self-funded. Temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar pelaku UMKM masih mengandalkan modal internal dibandingkan memanfaatkan fasilitas pembiayaan dari lembaga keuangan.
Pendampingan Dinilai Meningkatkan Kesiapan Pelaku Usaha
Rendahnya permintaan kredit menunjukkan bahwa tantangan UMKM tidak hanya berkaitan dengan akses pembiayaan, tetapi juga kesiapan menjalankan usaha secara lebih profesional.
Karena itu, berbagai lembaga mulai mengembangkan program pendampingan yang tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga membantu pelaku usaha menerapkan pengetahuan tersebut dalam aktivitas bisnis sehari-hari.
Direktur Eksekutif Inovasi Teknologi Indonesia (Inotek), Ivi Anggraeni, mengatakan pendampingan menjadi bagian penting dalam meningkatkan kapasitas UMKM agar mampu berkembang secara berkelanjutan.
Menurutnya, program tersebut dirancang supaya peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menyusun langkah nyata untuk memperbaiki pengelolaan usaha.
“Dari proses pendampingan kami melihat, peserta semakin siap dalam aspek pengelolaan usaha, pengembangan produk, serta pemanfaatan kanal digital untuk menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Ivi.
Selain meningkatkan kemampuan manajemen, pelatihan juga membantu pelaku usaha memahami pemasaran digital, inovasi produk, serta strategi memperluas jaringan pelanggan.
Program Pendampingan Libatkan Puluhan UMKM di Kabupaten Subang
Salah satu program penguatan kapasitas UMKM dijalankan melalui kolaborasi Inotek bersama Sampoerna untuk Indonesia. Program tersebut melibatkan 82 pelaku UMKM yang berasal dari 19 desa di Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Sebagian besar peserta merupakan pelaku usaha di sektor makanan dan minuman yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat setempat.
Melalui pelatihan dan pendampingan, peserta memperoleh materi mengenai pengembangan produk, strategi pemasaran, pengelolaan usaha, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan daya saing.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu membantu UMKM membangun bisnis yang lebih siap berkembang sehingga memiliki kebutuhan investasi yang lebih jelas dan layak memperoleh pembiayaan perbankan.
Kolaborasi Jadi Kunci Penguatan Daya Saing UMKM
Wakil Bupati Subang, Agus Masykur Rosyadi, menilai sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendamping menjadi faktor penting dalam mempercepat pengembangan UMKM.
Menurutnya, kolaborasi tersebut memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperluas akses terhadap pasar dan berbagai program pengembangan.
“Program pengembangan UMKM yang tidak hanya menyasar kebutuhan dasar, tetapi juga penguatan kapasitas pada level yang lebih lanjut,” kata Agus.
Ia menambahkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia pelaku UMKM perlu berjalan seiring dengan perluasan akses pembiayaan agar pertumbuhan usaha dapat berlangsung lebih berkelanjutan.
Penguatan Kapasitas Dinilai Mendorong Pertumbuhan Kredit UMKM
Pendampingan yang terarah dipandang menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kesiapan pelaku UMKM dalam memanfaatkan fasilitas kredit. Ketika pengelolaan usaha semakin baik, pelaku usaha akan lebih percaya diri menyusun rencana ekspansi dan mengajukan pembiayaan kepada perbankan.
Selain memperbaiki administrasi bisnis, peningkatan kemampuan dalam mengelola keuangan, memanfaatkan teknologi digital, dan memahami kebutuhan pasar juga menjadi faktor penting yang memengaruhi kelayakan usaha di mata lembaga keuangan.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, perbankan, dunia usaha, dan lembaga pendamping diharapkan mampu memperkuat ekosistem UMKM Indonesia. Dengan kapasitas bisnis yang semakin baik, pelaku usaha tidak hanya lebih mudah mengakses kredit, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh, menciptakan lapangan kerja, dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional.
Baca Juga “Bank Sumsel Babel Perluas Akses Pembiayaan UMKM Lewat Kredit Sultan Muda 2026 “