4 Startup RI Tampil di SusHi Tech Tokyo 2026

EMPAT STARTUP INDONESIA TAMPIL DI SUSHI TECH TOKYO 2026 BAWA INOVASI TEKNOLOGI DAN KEBERLANJUTAN
Program Bekup Global Scale-Up dorong ekspansi startup ke pasar Jepang dan global

Empat startup Indonesia menunjukkan kiprahnya di ajang teknologi global SusHi Tech Tokyo 2026 melalui program Bekup Global Scale-Up yang diinisiasi Kementerian Ekonomi Kreatif. Partisipasi ini menjadi langkah strategis untuk memperluas pasar internasional, khususnya ke Jepang yang memiliki ekosistem inovasi kuat.

Baca Juga “Lulusan MIT dari Pakistan Curi Perhatian, Startup-nya Diincar SpaceX Senilai Rp 1.000 T“

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyatakan bahwa keempat startup terpilih telah melewati proses kurasi ketat sebelum diberangkatkan. Mereka mengikuti rangkaian kegiatan seperti benchmarking, business matching, serta penjajakan peluang kerja sama dengan mitra global.

“Empat startup ini tidak hanya mempresentasikan produk, tetapi juga mencari peluang kolaborasi yang konkret di pasar internasional,” ujar Riefky dalam keterangannya di Jakarta, 21 April 2026.

Keempat startup tersebut adalah Bell Living Lab, Gapai, IJO, dan SPUN. Masing-masing menghadirkan solusi di sektor berbeda, mulai dari keberlanjutan lingkungan hingga teknologi berbasis kecerdasan buatan. Keberagaman ini mencerminkan potensi inovasi Indonesia yang semakin kompetitif di tingkat global.

Dua di antaranya, Bell Living Lab dan IJO, berfokus pada isu keberlanjutan lingkungan. Jepang sebagai tuan rumah dikenal memiliki perhatian tinggi terhadap teknologi ramah lingkungan, sehingga inovasi dari kedua startup ini dinilai memiliki peluang besar menarik minat investor dan mitra bisnis.

Sementara itu, Gapai hadir dengan solusi penghubung tenaga kerja terampil Indonesia dengan perusahaan luar negeri. Platform ini menargetkan sektor seperti perhotelan, manufaktur, dan kesehatan, yang memiliki permintaan tinggi di pasar Jepang.

Riefky menambahkan bahwa kerja sama tenaga kerja menjadi salah satu fokus hubungan bilateral Indonesia dan Jepang. Dengan adanya platform seperti Gapai, peluang tenaga kerja Indonesia untuk masuk ke pasar global semakin terbuka.

Startup lainnya, SPUN, memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk menyederhanakan proses pengurusan visa. Solusi ini dirancang untuk membantu individu maupun perusahaan memahami persyaratan visa secara lebih cepat dan akurat.

CEO SPUN Global, Christa Sabathaly, menjelaskan bahwa platformnya memiliki fitur Visa Approval Scoring yang dapat memprediksi kemungkinan persetujuan visa sebelum diajukan. Teknologi ini membantu pengguna menghindari risiko penolakan yang dapat menimbulkan kerugian biaya.

“Kami mengembangkan sistem berbasis data yang mampu menganalisis berbagai persyaratan visa dengan cepat, sehingga pengguna dapat mengambil keputusan yang lebih tepat,” ujarnya.

Di sisi lain, Bell Living Lab menghadirkan inovasi berbasis limbah kopi. Pendiri Bell Living Lab, Arka Irfani, mengungkapkan bahwa perusahaannya mengolah ampas kopi menjadi material alternatif untuk industri fesyen dan furnitur.

Material tersebut diproduksi melalui proses fermentasi yang menghasilkan lembaran mirip kulit. Produk ini memiliki karakter fleksibel, kuat, dan ramah lingkungan. Hingga saat ini, Bell Living Lab telah mengembangkan lebih dari 30 jenis produk berbasis material tersebut.

“Inovasi ini berangkat dari riset fermentasi yang saya pelajari saat kuliah. Kami melihat limbah kopi sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi tinggi,” kata Arka.

Ia juga menyebut bahwa tren penggunaan material ramah lingkungan terus meningkat, baik di dalam maupun luar negeri. Hal ini membuka peluang besar bagi ekspansi produk ke pasar global, termasuk Jepang.

Dari sisi target ekonomi, Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekraf, Muhammad Neil El Himam, menyampaikan bahwa partisipasi ini diharapkan menghasilkan 20 hingga 32 pertemuan bisnis. Dari jumlah tersebut, diproyeksikan akan tercipta 12 hingga 22 kerja sama potensial.

Nilai transaksi awal diperkirakan mencapai 1 hingga 5 juta dolar AS. Selain itu, keikutsertaan ini juga bertujuan meningkatkan visibilitas Indonesia di kancah global serta memperluas jaringan kolaborasi lintas negara.

Program Bekup Global Scale-Up sendiri dirancang untuk mempersiapkan startup Indonesia memasuki pasar internasional. Program ini mencakup pendampingan intensif, kurasi berbasis kebutuhan pasar, serta akses ke jaringan global yang relevan.

Sejak diluncurkan pada Februari 2026, program ini menarik lebih dari 125 pendaftar dari berbagai daerah di Indonesia. Setelah melalui seleksi berlapis, terpilih 10 startup terbaik yang kemudian disaring kembali menjadi empat finalis utama.

Proses kurasi akhir melibatkan mitra internasional seperti Creww Inn dan TechShake dari Jepang. Kolaborasi ini memastikan bahwa startup yang terpilih memiliki kesesuaian produk dengan kebutuhan pasar global.

Secara keseluruhan, partisipasi Indonesia dalam SusHi Tech Tokyo 2026 mencerminkan upaya serius pemerintah dalam mendorong ekosistem startup nasional untuk naik kelas. Dukungan ini diharapkan mampu mempercepat pertumbuhan inovasi sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di industri teknologi global.

Ke depan, kolaborasi lintas negara menjadi kunci dalam memperluas pasar dan memperkuat posisi startup Indonesia. Dengan inovasi yang relevan dan strategi ekspansi yang tepat, peluang untuk bersaing di pasar internasional semakin terbuka lebar.

Baca Juga “Perkembangan Startup Digital di Indonesia“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *