Pertamina Perluas Dampak Ekonomi melalui Pembinaan UMKM
Pertamina memperluas dampak ekonomi bagi masyarakat melalui program pembinaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Program tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas bisnis, tetapi juga membuka akses pembiayaan, pasar, dan jejaring usaha.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan pembinaan UMKM menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Pembinaan UMKM Pertamina Dorong Pertumbuhan Usaha
Baron menjelaskan Pertamina memandang UMKM sebagai salah satu penggerak utama ekonomi nasional. Karena itu, perusahaan menjalankan pembinaan yang mencakup berbagai aspek pengembangan usaha.
“Pertamina meyakini UMKM merupakan penggerak utama ekonomi nasional. Karena itu, pembinaan yang kami lakukan tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas bisnis, tetapi juga membuka akses terhadap pembiayaan, pasar, dan jejaring usaha agar UMKM mampu tumbuh lebih kompetitif sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya,” ujar Baron dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Baca Juga “Rangkul Anak Berkebutuhan Khusus serta Manfaatkan Limbah Kain untuk Hadirkan Produk UMKM“
Menurut Baron, penguatan kapasitas UMKM penting untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperluas manfaat ekonomi di tingkat masyarakat. Pendekatan tersebut juga membantu pelaku usaha memperoleh peluang yang lebih besar untuk mengembangkan bisnis.
Salah satu contoh program tersebut terlihat dari perkembangan Narita Shibori. UMKM fesyen asal Bandung itu mengembangkan teknik pewarnaan kain shibori menjadi berbagai produk dengan nilai tambah.
UMKM Berperan Besar dalam Perekonomian Nasional
Baron menilai penguatan UMKM memiliki posisi strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Berdasarkan data yang disampaikan Pertamina, sektor UMKM menyumbang 60,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap 97 persen tenaga kerja nasional.
Namun, kontribusi UMKM terhadap ekspor masih berada di kisaran 15,7 persen. Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan kemampuan UMKM dalam menembus pasar internasional.
Peningkatan kapasitas produksi, inovasi, kualitas produk, serta akses pasar menjadi sejumlah faktor penting. Penguatan aspek tersebut dapat membantu lebih banyak produk UMKM Indonesia meningkatkan daya saing di pasar global.
“Program pembinaan UMKM Pertamina sejalan dengan Asta Cita pemerintah dalam memperkuat kewirausahaan, mendorong pengembangan industri kreatif, serta memperluas kesempatan ekonomi yang inklusif,” kata Baron.
Narita Shibori Berkembang Setelah Menjadi UMKM Binaan
Pendekatan pembinaan Pertamina juga dirasakan Anarita, pendiri Narita Shibori. Ia mengembangkan bisnis fesyen berbasis teknik shibori dari skala rumahan di Bandung.
Pada tahap awal, Anarita menghadapi keterbatasan modal dan akses promosi. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas pasar produknya.
Narita Shibori kemudian bergabung sebagai UMKM binaan Pertamina pada 2019. Setelah itu, usaha tersebut memperoleh pendampingan melalui sejumlah program pengembangan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Pertamina memberikan dukungan pembiayaan, peningkatan kapasitas melalui UMK Academy, serta akses promosi. Peluang promosi tersebut mencakup keikutsertaan dalam berbagai pameran di tingkat nasional hingga internasional.
“Kami mendapat modal kerja untuk produksi, bantuan pemasaran skala nasional hingga internasional, serta pelatihan melalui Pertamina Academy,” ujar Anarita.
Omzet Narita Shibori Meningkat Hampir Tiga Kali Lipat
Pendampingan tersebut turut menjadi fondasi bagi perkembangan Narita Shibori. Dalam beberapa tahun terakhir, omzet usaha tersebut meningkat hampir tiga kali lipat.
Produk Narita Shibori juga memperoleh kesempatan tampil dalam berbagai pameran nasional. Beberapa di antaranya adalah Inacraft, SMEXPO, Kriya Nusa, dan Tunjukkan Indonesiamu.
Narita Shibori kemudian mendapat kesempatan mengikuti DMI Utrecht di Belanda pada 2024. Kesempatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses produk ke pasar internasional.
Perkembangan tersebut menunjukkan pentingnya kombinasi antara pembiayaan, peningkatan kapasitas, promosi, dan akses pasar dalam pengembangan UMKM. Pendampingan yang berkelanjutan juga dapat membantu pelaku usaha meningkatkan skala bisnis secara bertahap.
Pemberdayaan Kelompok Rentan Perluas Manfaat Ekonomi
Selain mengembangkan bisnis, Narita Shibori membangun kolaborasi dengan kelompok rentan. Anarita bekerja sama dengan Rumah Hasanah dengan melibatkan 12 penyandang disabilitas dalam proses produksi.
Kolaborasi tersebut menghasilkan berbagai produk fesyen dan aksesori. Narita juga berencana mengembangkan hasil kolaborasi tersebut ke produk home decor.
“Kami sudah tiga tahun berkolaborasi dengan Rumah Hasanah. Karya mereka kami padu padankan menjadi produk fesyen, tote bag, dan ke depannya home decor. Karena karya mereka memang layak dihargai,” kata Anarita.
Menurut Anarita, pelibatan penyandang disabilitas tidak hanya berkaitan dengan aspek sosial. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem usaha yang memberikan kesempatan kepada lebih banyak orang untuk berkarya dan memperoleh penghasilan.
Pembinaan UMKM Dorong Ekosistem Usaha yang Inklusif
Pengalaman Narita Shibori memperlihatkan bahwa pembinaan UMKM dapat memberikan dampak yang melampaui pertumbuhan omzet. Dukungan terhadap pembiayaan, kompetensi, promosi, dan akses pasar dapat memperkuat fondasi bisnis.
Kolaborasi dengan kelompok rentan juga menunjukkan bahwa pertumbuhan usaha dapat berjalan beriringan dengan penciptaan kesempatan ekonomi yang lebih inklusif.
Ke depan, peningkatan daya saing UMKM membutuhkan dukungan yang konsisten. Penguatan inovasi, kualitas produk, kapasitas produksi, dan akses pasar menjadi kunci agar semakin banyak UMKM mampu berkembang serta memperluas kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
Baca Juga “Narita Shibori dan Perjalanan Menjadi UMKM Inklusif Binaan Pertamina“