Pengusaha Dorong Kebijakan Gas untuk Selamatkan Industri Keramik
Industri keramik nasional menghadapi tekanan serius akibat gangguan pasokan energi dan meningkatnya biaya produksi. Untuk menjaga keberlangsungan sektor ini, pelaku industri meminta pemerintah segera mengambil langkah strategis, terutama terkait kebijakan pasokan gas bumi bagi kebutuhan domestik.
Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menilai kebijakan domestic market obligation (DMO) gas bumi menjadi solusi penting untuk memastikan ketersediaan energi bagi industri dalam negeri. Langkah ini dinilai krusial agar sektor keramik tetap mampu beroperasi optimal dan berkontribusi pada perekonomian nasional.
baca juga”Kemnaker Hapus Batasan Tahun Kelulusan Pelatihan Vokasi 2026“
Tekanan Pasokan Gas dan Lonjakan Biaya Produksi
Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto, mengungkapkan bahwa industri keramik saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari terganggunya suplai gas hingga kenaikan biaya energi. Kondisi ini berdampak langsung pada operasional pabrik dan produktivitas.
Pada kuartal I 2026, tingkat utilisasi industri keramik tercatat hanya berada di kisaran 70–72 persen. Angka ini masih di bawah target ideal sebesar 80 persen, yang dibutuhkan untuk menjaga efisiensi produksi.
Menurut Edy, ketidakpastian pasokan gas membuat industri sulit merencanakan produksi secara stabil. Ia menegaskan bahwa energi merupakan komponen utama dalam proses produksi keramik, sehingga gangguan sekecil apa pun dapat berdampak besar.
Selain faktor energi, industri juga menghadapi tekanan dari meningkatnya produk impor. Kondisi ini memperketat persaingan dan menekan margin keuntungan pelaku usaha dalam negeri.
Permintaan Kebijakan DMO dan Prioritas Energi Domestik
Asaki mendorong pemerintah untuk memprioritaskan gas bumi bagi industri dalam negeri melalui kebijakan DMO. Kebijakan ini dinilai mampu menjamin pasokan energi sekaligus menjaga daya saing industri nasional.
Edy menegaskan bahwa pengurangan porsi ekspor gas perlu dipertimbangkan untuk memperkuat ketahanan energi domestik. Ia menilai sektor industri, termasuk keramik, memiliki efek berganda yang besar terhadap perekonomian.
Industri keramik tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga mendorong investasi dan pertumbuhan sektor terkait. Oleh karena itu, keberlanjutan sektor ini dinilai penting bagi stabilitas ekonomi nasional.
Di sisi lain, dinamika global turut memperburuk kondisi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi harga dan pasokan energi dunia, yang berdampak langsung pada Indonesia sebagai negara yang masih mengandalkan impor energi.
Kontribusi dan Potensi Industri Keramik Nasional
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa kapasitas produksi terpasang industri keramik nasional telah mencapai 650 juta meter persegi per tahun. Sektor ini juga menyerap sekitar 150 ribu tenaga kerja.
Pada 2025, tingkat utilisasi industri diperkirakan mencapai 73 persen. Angka ini menunjukkan bahwa masih terdapat ruang untuk meningkatkan produksi apabila hambatan energi dapat diatasi.
Secara lebih luas, industri pengolahan nonmigas tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Sepanjang triwulan I hingga III 2025, sektor ini tumbuh 5,17 persen dan berkontribusi 17,27 persen terhadap produk domestik bruto.
Selain itu, sektor ini menyumbang lebih dari 80 persen total ekspor nasional dan menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja. Hal ini menegaskan pentingnya menjaga stabilitas industri, termasuk subsektor keramik.
Pemerintah juga melihat peluang besar bagi industri keramik Indonesia untuk menjadi salah satu produsen terbesar di dunia. Namun, potensi ini hanya dapat terwujud jika dukungan kebijakan dan pasokan energi memadai.
Arah Kebijakan untuk Menjaga Daya Saing Industri
Ke depan, sinergi antara pemerintah dan pelaku industri menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan sektor keramik. Kebijakan energi yang berpihak pada industri domestik dapat menjadi fondasi penting untuk meningkatkan daya saing.
Dengan pasokan gas yang stabil dan biaya energi yang terkendali, industri keramik berpeluang meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar. Hal ini juga akan memperkuat kontribusi sektor manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Langkah strategis yang tepat tidak hanya menjaga kelangsungan industri, tetapi juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya di pasar global.
baca juga”Pati Ubi Kayu Jadi Fokus Strategi Industrialisasi Nasional“