Harga Bahan Baku Naik, UMKM Kuliner Hadapi Tantangan
Kenaikan harga bahan baku menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi pelaku UMKM kuliner. Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya produksi dan memengaruhi penetapan harga jual.
Pelaku usaha perlu menjaga keseimbangan antara biaya produksi, harga jual, dan kepuasan pelanggan. Strategi tersebut diterapkan Nana Lukita Sari, pemilik brand NaluriHomemade di Makassar.
Nana membagikan pengalamannya dalam program Obrolan Teras UMKM Pro4 RRI Makassar pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Ia menjelaskan cara mengelola kenaikan harga bahan baku tanpa mengorbankan kualitas produk.
Baca Juga “Pemerintah Luncurkan Holding UMKM Perkebunan, 16 Ton Lada Muntok Diekspor ke Belanda“
Pelaku UMKM Kuliner Hitung Ulang HPP
Nana mengatakan harga bahan baku seperti mentega, susu, dan cokelat dapat mengalami kenaikan pada periode tertentu. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha perlu memantau perubahan harga secara berkala.
Setiap kali harga bahan baku berubah, Nana menghitung kembali harga pokok produksi atau HPP. Perhitungan tersebut menjadi dasar untuk menentukan apakah harga jual perlu disesuaikan.
Menurut Nana, kenaikan biaya produksi tidak selalu langsung membuat harga produk naik. Selama HPP masih memungkinkan, ia berusaha mempertahankan harga jual untuk menjaga daya beli pelanggan.
“Jika masih memungkinkan, harga tidak akan dinaikkan. Namun, jika sudah tidak sesuai, tentu harus ada penyesuaian,” ujar Nana.
Pendekatan tersebut membantu pelaku usaha mengambil keputusan berdasarkan biaya produksi aktual. Dengan demikian, perubahan harga tidak dilakukan secara sembarangan.
Transparansi Jadi Strategi Menjaga Kepercayaan Pelanggan
Ketika harga jual berubah, Nana menyampaikan informasi tersebut kepada pelanggan melalui media promosi. Katalog dan flyer digunakan untuk mencantumkan daftar harga terbaru.
Cara tersebut memungkinkan pelanggan mengetahui produk yang mengalami perubahan harga. Pelanggan juga dapat melihat produk yang harganya masih dipertahankan.
Nana menempatkan transparansi sebagai bagian penting dalam menjalankan usaha. Ia memberikan penjelasan ketika pelanggan mempertanyakan perbedaan harga.
Menurutnya, komunikasi sebelum transaksi dapat mengurangi potensi kesalahpahaman. Pelanggan juga memiliki kesempatan untuk menentukan pilihan berdasarkan anggaran dan kebutuhan.
Strategi komunikasi menjadi semakin penting ketika biaya produksi mengalami perubahan. Pelanggan yang memahami alasan penyesuaian harga cenderung memperoleh informasi yang lebih jelas sebelum membeli.
Kualitas Produk Tetap Menjadi Prioritas
Kenaikan harga bahan baku tidak membuat Nana memilih bahan dengan kualitas lebih rendah. Ia menilai langkah tersebut dapat memengaruhi cita rasa dan mengecewakan pelanggan.
Kualitas menjadi pertimbangan penting karena NaluriHomemade memiliki pelanggan yang melakukan pembelian berulang. Mempertahankan standar produk menjadi salah satu cara menjaga kepercayaan pelanggan.
Sebagai alternatif, Nana menawarkan varian produk dengan harga lebih terjangkau. Namun, produk tersebut tetap dijelaskan memiliki ukuran atau karakteristik yang berbeda.
“Saya selalu menjelaskan kepada pelanggan bahwa perbedaan harga tentu akan diikuti dengan perbedaan produk,” jelas Nana.
Dengan cara tersebut, pelanggan dapat memilih produk sesuai kemampuan dan kebutuhan. Strategi ini juga memungkinkan pelaku usaha menyediakan lebih banyak pilihan tanpa menurunkan standar produk utama.
Penyesuaian Ukuran Jadi Alternatif Harga
Nana mengatakan sebagian besar pelanggannya lebih mempertimbangkan cita rasa daripada sekadar harga. Ia juga mengaku jarang menghadapi pelanggan yang menawar harga produk.
Ketika pelanggan memiliki anggaran terbatas, Nana menawarkan penyesuaian ukuran sebagai alternatif. Contohnya, ukuran roti dapat dibuat lebih kecil tanpa mengubah kualitas bahan dan cita rasanya.
Strategi tersebut memungkinkan pelanggan tetap membeli produk sesuai anggaran. Pada saat yang sama, pelaku usaha dapat mempertahankan kualitas bahan dan mengendalikan biaya produksi.
Setiap pilihan tetap dikomunikasikan sebelum transaksi berlangsung. Menurut Nana, komunikasi yang jelas membantu menciptakan kenyamanan bagi pelanggan dan pelaku usaha.
UMKM Kuliner Perlu Selektif Mengikuti Tren
Selain mengelola biaya produksi, pelaku UMKM kuliner menghadapi perubahan tren yang berlangsung cepat. Tren dapat memengaruhi selera konsumen dan mendorong munculnya berbagai jenis produk baru.
Nana menilai pelaku usaha tidak harus mengikuti seluruh tren kuliner. Menurutnya, keputusan mengikuti tren perlu mempertimbangkan karakter produk dan target pasar.
“Memahami target pasar merupakan kunci utama dalam menjaga identitas produk,” kata Nana.
Ia menilai tren yang tidak sesuai dengan karakter usaha justru dapat mengaburkan identitas produk. Karena itu, pelaku UMKM perlu memilih tren yang memiliki relevansi dengan konsumennya.
Pemahaman terhadap target pasar dapat membantu pelaku usaha menentukan produk yang perlu dikembangkan. Strategi tersebut juga membuat inovasi tetap selaras dengan identitas bisnis.
Manajemen Waktu Jadi Tantangan Pelaku Usaha
Nana mengungkapkan tantangan terbesar dalam menjalankan usaha bukan hanya berkaitan dengan modal. Pengelolaan waktu juga menjadi persoalan penting karena pemilik usaha harus menangani berbagai aktivitas secara bersamaan.
Kegiatan tersebut mencakup produksi, promosi, pengembangan usaha, dan pengelolaan media sosial. Seluruh aktivitas membutuhkan perencanaan agar tidak saling mengganggu.
Nana menerapkan pembagian waktu dengan memprioritaskan proses produksi. Setelah pekerjaan tersebut selesai, ia melanjutkan aktivitas pembuatan konten promosi.
Pola kerja tersebut membantunya menjaga fokus terhadap kegiatan utama. Manajemen waktu juga menjadi bagian penting dalam menjaga konsistensi operasional usaha.
UMKM Kuliner Tumbuh melalui Langkah Bertahap
Pengalaman Nana menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan baku tidak selalu harus diatasi dengan menaikkan harga jual. Pelaku usaha dapat mengevaluasi HPP, menjaga kualitas, dan menawarkan pilihan produk sesuai kemampuan pelanggan.
Transparansi juga menjadi faktor penting dalam mempertahankan hubungan dengan konsumen. Informasi harga dan karakter produk yang jelas membantu pelanggan membuat keputusan pembelian secara lebih nyaman.
Di tengah perubahan harga dan tren kuliner, pelaku UMKM perlu menjaga fleksibilitas tanpa kehilangan identitas bisnis. Pengelolaan biaya, kualitas, pemasaran, dan waktu perlu berjalan secara seimbang.
Nana tetap optimistis mengembangkan NaluriHomemade secara bertahap. Baginya, target usaha tidak harus dicapai sekaligus, tetapi dapat dibangun melalui pencapaian kecil yang dilakukan secara konsisten.
“Semua dijalani secara bertahap. Target-target kecil harus dicapai terlebih dahulu sebelum melangkah ke tahap yang lebih besar,” tutup Nana.
Baca Juga “Kukerta FBN UNRI Tingkatkan Kapasitas UMKM Ting Ting Jahe di Tebing Tinggi Okura“