PEREMPUAN UMKM BANGKIT DARI MODAL TERBATAS LEWAT PELATIHAN FINANSIAL
KISAH NYATA YANTI DAN NINGSIH MEMBANGUN USAHA HINGGA STABIL
Peran perempuan dalam sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) semakin menonjol dalam beberapa tahun terakhir. Banyak usaha rumahan yang awalnya hanya bertujuan menambah penghasilan, kini berkembang menjadi sumber ekonomi utama keluarga.
Fenomena ini terlihat dari kisah inspiratif dua pelaku UMKM asal Belitung, yakni Ibu Yanti dan Ibu Ningsih. Keduanya membuktikan bahwa keterbatasan modal bukan penghalang untuk membangun usaha yang berkelanjutan.
Ibu Yanti memulai bisnis olahan nanas dari skala kecil dengan peralatan sederhana. Ia menjalankan usaha tersebut secara bertahap sambil tetap mengelola kebutuhan rumah tangga. Awalnya, penghasilan yang diperoleh tidak menentu, namun ia tetap konsisten mengembangkan produknya.
Seiring waktu, usaha tersebut mulai menunjukkan hasil. Produk olahan nanas yang ia buat semakin dikenal di lingkungan sekitar dan mulai memiliki pelanggan tetap. Pendapatan yang awalnya hanya tambahan kini menjadi pemasukan utama yang lebih stabil.
Baca Juga “UMKM manfaatkan teknologi AI Grab guna optimalkan pengembangan usaha“
“Awalnya hanya ingin membantu kebutuhan rumah tangga, tetapi sekarang justru menjadi penghasilan yang paling rutin,” ungkap Yanti dalam sebuah pelatihan usaha.
Tidak hanya berfokus pada keuntungan pribadi, Yanti juga membuka peluang kerja bagi perempuan di sekitarnya. Ia mempekerjakan beberapa ibu rumah tangga, termasuk mereka yang menjadi tulang punggung keluarga.
Langkah ini memberikan dampak sosial yang signifikan. Selain meningkatkan ekonomi keluarga, usaha tersebut juga membantu mengurangi beban ekonomi masyarakat di lingkungan sekitar.
Di sisi lain, Ibu Ningsih mengembangkan usaha kacang bawang dengan pendekatan yang berbeda. Ia menyadari bahwa kemampuan produksi saja tidak cukup untuk meningkatkan skala usaha.
Awalnya, Ningsih menjalankan bisnis tanpa pencatatan keuangan yang jelas. Ia mencampur antara modal, keuntungan, dan kebutuhan pribadi, sehingga sulit mengetahui kondisi keuangan usaha secara pasti.
Perubahan mulai terjadi setelah ia mengikuti pelatihan dari Kementerian UMKM melalui program “Kelas Tunai”. Pelatihan ini membekali peserta dengan pemahaman dasar pengelolaan keuangan usaha.
Ningsih mulai menerapkan pencatatan keuangan secara rutin. Ia memisahkan modal dan keuntungan serta mencatat aset usaha secara detail. Langkah sederhana ini memberikan dampak besar terhadap stabilitas bisnisnya.
Kini, usaha kacang bawang miliknya mampu memproduksi hingga 100 kemasan per hari. Produk tersebut dipasarkan melalui penjualan langsung dan platform digital, sehingga jangkauan pasar menjadi lebih luas.
“Ternyata pengelolaan keuangan itu penting. Sekarang usaha lebih terarah dan saya bisa mengontrol pemasukan,” ujar Ningsih.
Pelatihan ini juga melibatkan dukungan dari SeaBank dan ShopeePay. Kolaborasi ini membantu pelaku UMKM memahami penggunaan layanan keuangan digital dalam operasional bisnis.
LITERASI KEUANGAN DAN DIGITALISASI JADI KUNCI PERTUMBUHAN UMKM
Kisah Yanti dan Ningsih menunjukkan bahwa literasi keuangan menjadi faktor penting dalam keberhasilan UMKM. Pengelolaan keuangan yang baik memungkinkan pelaku usaha mengontrol arus kas, merencanakan pengembangan, dan menghindari risiko kerugian.
Selain itu, pemanfaatan teknologi digital juga menjadi pendorong pertumbuhan usaha. Penjualan melalui platform online membuka akses pasar yang lebih luas dan meningkatkan potensi pendapatan.
Data dari Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa sekitar 64,5 persen UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan. Jumlah tersebut mencapai sekitar 37 juta pelaku usaha perempuan dari total 65,5 juta UMKM.
Angka ini menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Namun, tantangan seperti keterbatasan akses pembiayaan dan rendahnya literasi keuangan masih menjadi hambatan utama.
Program pelatihan seperti “Kelas Tunai” menjadi solusi untuk menjawab tantangan tersebut. Selain meningkatkan pemahaman finansial, program ini juga mendorong pelaku usaha untuk lebih adaptif terhadap perubahan teknologi.
Dalam konteks ekonomi modern, UMKM yang mampu menggabungkan literasi keuangan dan digitalisasi memiliki peluang lebih besar untuk berkembang. Hal ini menjadi kunci dalam menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat.
PENUTUP: DARI USAHA KECIL MENUJU KETAHANAN EKONOMI KELUARGA
Perjalanan Ibu Yanti dan Ibu Ningsih membuktikan bahwa usaha kecil dapat berkembang menjadi sumber penghasilan yang kuat. Kunci keberhasilan terletak pada konsistensi, kemauan belajar, dan kemampuan beradaptasi.
Dengan dukungan pelatihan yang tepat, pelaku UMKM perempuan dapat meningkatkan kapasitas usaha mereka secara signifikan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh lingkungan sekitar.
Ke depan, penguatan literasi keuangan dan akses terhadap teknologi digital perlu terus diperluas. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga keuangan menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem UMKM yang inklusif.
Jika dikelola dengan baik, UMKM perempuan berpotensi menjadi pilar utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan merata di Indonesia.
Baca Juga “Harga Plastik Naik Tajam, Ini Reaksi Pelaku UMKM di Ponorogo“