Cara UMKM Somah Wooden Cutlery Kelola Limbah Produksi

UMKM Somah Wooden Cutlery Ubah Limbah Kayu Menjadi Produk Ramah Lingkungan

Kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan mendorong banyak pelaku usaha untuk menerapkan konsep produksi yang lebih berkelanjutan. Salah satu contoh datang dari UMKM Somah Wooden Cutlery di Bantul, Yogyakarta, yang mengubah limbah kayu mebel menjadi berbagai perlengkapan makan bernilai ekonomi.

Di tangan pasangan suami istri Leonie Dian Anggrasari dan Miftakul Efendi, potongan kayu bekas yang biasanya dibuang, dibakar, atau dibiarkan lapuk berhasil mendapat kehidupan baru sebagai produk kerajinan yang fungsional. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menunjukkan bahwa bisnis dapat berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Didirikan pada 2020, Somah Wooden Cutlery mengembangkan berbagai alat makan berbahan kayu yang dibuat secara manual. Hingga kini, mereka telah menghasilkan sekitar 10 jenis produk, mulai dari sendok teh, sendok makan, garpu, pisau makan, hingga peralatan makan praktis untuk kebutuhan perjalanan.

baca juga”Tingkatkan Efisiensi HR dengan Aplikasi Payroll Tepat“

Berawal dari Kebutuhan Pribadi hingga Menjadi Peluang Usaha Berkelanjutan

Perjalanan Somah Wooden Cutlery dimulai dari kebutuhan sederhana. Leonie saat itu mencari sendok makan berukuran kecil yang mudah dibawa untuk aktivitas sehari-hari. Miftakul Efendi kemudian membuatkan sendok kayu dari sisa bahan yang tersedia.

Produk sederhana tersebut menjadi titik awal lahirnya ide untuk mengembangkan alat makan berbahan kayu bekas. Sendok kecil yang pertama kali dibuat pada 2018 menjadi cikal bakal produk Somah yang kemudian berkembang menjadi sebuah usaha kerajinan berkonsep ramah lingkungan.

Meski permintaan produk meningkat, Leonie dan Efendi memilih tetap mempertahankan proses produksi handmade. Mesin hanya digunakan untuk membantu tahap pemotongan bahan baku, sementara proses pembentukan, penghalusan, hingga tahap akhir pengerjaan masih dilakukan dengan keterampilan tangan.

Efendi yang memiliki latar belakang pendidikan Seni Kriya Kayu dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta memanfaatkan keahliannya untuk memastikan setiap produk memiliki fungsi, kenyamanan, dan nilai estetika yang baik.

Menggunakan Kayu Bekas untuk Mengurangi Penebangan Pohon Baru

Keputusan menggunakan limbah kayu mebel lahir dari kepedulian terhadap semakin berkurangnya jumlah pohon akibat kebutuhan pembangunan dan industri. Efendi ingin menciptakan produk tanpa harus mengambil bahan dari pohon yang baru ditebang.

Menurut Efendi, potongan kayu bekas mebel masih memiliki kualitas yang sangat baik karena banyak berasal dari kayu berkualitas seperti kayu jati. Material tersebut masih layak diolah menjadi berbagai produk baru dengan nilai guna yang tinggi.

Leonie juga menjelaskan bahwa banyak sisa kayu mebel berakhir sebagai kayu bakar meskipun kondisinya masih bagus. Oleh karena itu, Somah memilih mengolah kembali material tersebut menjadi alat makan yang dapat digunakan dalam jangka panjang.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yaitu sistem produksi yang berusaha memperpanjang umur material melalui penggunaan ulang, perbaikan, dan pengolahan kembali sehingga jumlah limbah dapat ditekan.

Memanfaatkan Seluruh Sisa Produksi agar Tidak Menjadi Sampah

Komitmen keberlanjutan Somah Wooden Cutlery tidak berhenti pada pemilihan bahan baku. Leonie dan Efendi juga berusaha meminimalkan limbah yang muncul selama proses produksi.

Potongan kayu berukuran kecil dimanfaatkan kembali untuk berbagai kebutuhan. Sebagian digunakan sebagai mulsa atau penutup permukaan tanah pada area tanaman di sekitar rumah, seperti kecombrang, pisang, jeruk nipis, hingga markisa.

Sisa kayu yang masih dapat digunakan juga dimanfaatkan sebagai bahan bakar dalam proses perebusan produk kayu yang telah selesai dibuat. Dengan cara tersebut, hampir seluruh bagian material dapat dimanfaatkan sehingga jumlah sampah produksi semakin sedikit.

Bahan baku kayu diperoleh dari berbagai sumber, mulai dari sisa industri mebel, barang bekas dari kerabat, hingga kayu dari furnitur lama yang sudah tidak digunakan. Proses pemilihan bahan dilakukan secara teliti agar kualitas produk tetap terjaga.

Tantangan Mengembangkan Produk Handmade dengan Standar Kualitas Tinggi

Meski telah menghasilkan berbagai jenis alat makan kayu, Somah masih belum memasarkan produk sumpit. Menurut Efendi, pembuatan sumpit membutuhkan tingkat presisi yang tinggi agar kedua bagian dapat berfungsi dengan baik saat digunakan.

Mereka sebenarnya pernah mencoba membuat sumpit, tetapi memilih tidak menjualnya karena belum memenuhi standar fungsi yang diinginkan. Bagi Somah, aspek kenyamanan dan kualitas penggunaan lebih penting dibanding sekadar tampilan visual.

Prinsip tersebut menjadi bagian dari komitmen mereka dalam menghadirkan produk yang tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga memiliki kualitas yang dapat dipercaya oleh konsumen.

Filosofi Nama Somah yang Mewakili Perjalanan Sebuah Pasangan

Nama Somah memiliki makna khusus bagi Leonie dan Efendi. Dalam bahasa Jawa, Somah berarti pasangan atau keluarga yang hidup dalam satu rumah. Nama tersebut dipilih sebagai representasi perjalanan mereka sebagai pasangan yang membangun usaha bersama.

Pemilihan istilah dari budaya Jawa juga menunjukkan kedekatan mereka dengan nilai-nilai lokal. Nama sederhana tersebut menjadi identitas yang menggambarkan kolaborasi, kebersamaan, dan semangat menciptakan produk yang bermanfaat bagi lingkungan.

Produksi Berkelanjutan Menjadi Identitas Utama Somah Wooden Cutlery

Kisah Somah Wooden Cutlery menunjukkan bahwa limbah bukan selalu akhir dari sebuah material. Dengan kreativitas, keterampilan, dan kepedulian terhadap lingkungan, sisa kayu mebel dapat berubah menjadi produk bernilai guna tinggi.

Upaya Leonie dan Miftakul Efendi dalam memanfaatkan kayu bekas serta mengolah sisa produksi menjadi contoh penerapan produksi berkelanjutan pada skala UMKM. Ke depan, konsep usaha seperti ini memiliki peluang besar untuk berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk yang ramah lingkungan dan bertanggung jawab terhadap alam.

baca juga”Mendagri Minta Pemda Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Dorong UMKM Bergerak“

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *