KASUS MENANTEA JADI PELAJARAN, UMKM DIDORONG BERALIH KE PEMBAYARAN DIGITAL
Digitalisasi Keuangan Dinilai Kunci Cegah Penipuan dan Perkuat Kontrol Bisnis
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) didorong memperkuat sistem pengelolaan keuangan dengan beralih ke pembayaran digital. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan transparansi sekaligus mencegah potensi penyelewengan dana dalam operasional usaha.
Baca Juga “Perkuat Pemberdayaan UMKM Perempuan, Bangun Bangsa Luncurkan Empower Academy Jakarta Batch 2“
Ketua Asosiasi Industri UMKM Indonesia (Akumandiri), Hermawati Setyorini, menegaskan bahwa penggunaan sistem pembayaran digital seperti QRIS, transfer bank, dan autodebit dapat membantu pelaku usaha mengontrol arus kas secara lebih akurat. Sistem ini memungkinkan pencatatan transaksi berlangsung secara real-time dan terintegrasi.
Menurutnya, pengelolaan keuangan berbasis digital juga memudahkan pemilik usaha dalam melakukan audit internal. Setiap transaksi tercatat otomatis, sehingga risiko manipulasi data dapat ditekan. Ia menyarankan agar akses keuangan tidak hanya dipegang satu pihak, tetapi melalui sistem persetujuan berlapis.
Kasus yang menimpa bisnis minuman Menantea milik Jerome Polin menjadi contoh nyata pentingnya sistem tersebut. Kerugian yang mencapai sekitar Rp38 miliar disebut terjadi akibat lemahnya pengawasan internal dalam pengelolaan keuangan.
Hermawati menilai masalah tersebut bukan disebabkan kondisi pasar, melainkan kesalahan dalam manajemen internal. Ia menyoroti praktik pengelolaan keuangan yang masih menggunakan metode sederhana seperti spreadsheet, yang dinilai tidak lagi memadai untuk bisnis dengan skala besar.
Penggunaan sistem manual seperti Excel dinilai memiliki celah manipulasi karena data dapat diubah tanpa jejak yang jelas. Hal ini membuat pemilik usaha kesulitan mendeteksi ketidaksesuaian laporan jika tidak melakukan pengecekan langsung terhadap mutasi rekening.
Dalam kasus tersebut, Jerome Polin mengakui bahwa ia terlalu mempercayakan pengelolaan keuangan kepada satu pihak tanpa pengawasan rutin. Ia baru menyadari adanya kejanggalan setelah melakukan pengecekan langsung pada transaksi rekening beberapa waktu kemudian.
Temuan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara laporan keuangan dan kondisi sebenarnya. Sebagian dana diketahui digunakan untuk menutup kebutuhan lain, sehingga menyebabkan kerugian signifikan dalam bisnis.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan dalam bisnis harus tetap diimbangi dengan sistem kontrol yang kuat. Tanpa pengawasan yang memadai, risiko penyelewengan dapat terjadi meskipun usaha berada dalam kondisi pasar yang baik.
Hermawati juga menyoroti praktik umum pada bisnis yang dimiliki figur publik, di mana pengelolaan sering sepenuhnya diserahkan kepada tim. Menurutnya, pemilik usaha tetap harus terlibat aktif dalam memantau keuangan, meskipun memiliki tim profesional.
Ia menegaskan bahwa sektor makanan dan minuman tetap memiliki prospek yang menjanjikan. Namun, keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh produk dan pasar, tetapi juga oleh kualitas manajemen internal.
Digitalisasi keuangan menjadi solusi yang semakin relevan di tengah perkembangan teknologi. Penggunaan sistem kasir digital, aplikasi akuntansi, dan integrasi pembayaran dapat membantu pelaku UMKM meningkatkan efisiensi sekaligus keamanan operasional.
Selain itu, tren adopsi pembayaran digital di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Dukungan infrastruktur seperti QRIS memudahkan pelaku usaha menerima berbagai metode pembayaran dalam satu sistem yang terintegrasi.
Dengan sistem yang lebih transparan, pelaku UMKM dapat membangun kepercayaan yang lebih kuat dengan mitra dan konsumen. Hal ini juga memudahkan akses ke pembiayaan, karena laporan keuangan yang rapi menjadi salah satu syarat utama.
Ke depan, pelaku usaha diharapkan tidak hanya fokus pada peningkatan penjualan, tetapi juga memperkuat fondasi manajemen. Digitalisasi keuangan dan pengawasan yang ketat menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan usaha.
Kasus Menantea menjadi pelajaran penting bahwa kesalahan kecil dalam pengelolaan dapat berdampak besar. Dengan sistem yang tepat, risiko serupa dapat diminimalkan, sehingga UMKM dapat tumbuh lebih sehat dan berdaya saing di era digital.
Baca Juga “Harga Plastik Melonjak, Laba UMKM di Jatinegara Anjlok hingga 25%“