EMPAT STARTUP INDONESIA TAMPIL DI SUSHI TECH TOKYO 2026 DENGAN INOVASI BERBASIS KEBERLANJUTAN
Program Pemerintah Dorong Ekspansi Startup ke Pasar Global
Empat startup Indonesia terpilih untuk tampil di ajang teknologi global SusHi Tech Tokyo 2026 melalui program Bekum Global Scale-Up yang diinisiasi pemerintah. Partisipasi ini menjadi bagian dari strategi untuk memperluas akses startup lokal ke pasar internasional, khususnya Jepang.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyatakan bahwa keikutsertaan ini tidak hanya bertujuan untuk promosi, tetapi juga membuka peluang kerja sama bisnis. Program ini mencakup kegiatan benchmarking, business matching, hingga penjajakan investasi lintas negara.
Empat startup yang terpilih adalah Bell Living Lab, Gapai, IJO, dan SPUN. Mereka berhasil lolos dari proses seleksi ketat yang melibatkan kurator internasional dan pelaku industri teknologi.
baca juga”Prabowo Instruksikan RUU Ketenagakerjaan Diteken“
Fokus Beragam: Lingkungan, Tenaga Kerja, hingga Teknologi Visa
Masing-masing startup membawa fokus inovasi yang berbeda. Bell Living Lab dan IJO mengembangkan solusi berbasis keberlanjutan lingkungan. Kedua startup ini dinilai memiliki daya tarik tinggi di Jepang yang sangat memperhatikan isu lingkungan.
Sementara itu, Gapai menghadirkan solusi penghubung antara perusahaan global dan tenaga kerja terampil dari Indonesia. Platform ini menargetkan sektor seperti perhotelan, manufaktur, dan kesehatan yang memiliki kebutuhan tenaga kerja tinggi.
Di sisi lain, SPUN mengembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan untuk membantu proses pengurusan visa. Pendekatan ini menawarkan efisiensi dan transparansi dalam sistem yang selama ini dikenal kompleks.
Inovasi Kulit Alternatif dari Limbah Kopi
Salah satu inovasi paling menarik datang dari Bell Living Lab. Startup ini mengembangkan material alternatif berbasis limbah kopi yang dapat digunakan untuk industri fesyen dan furnitur.
Pendiri Bell Living Lab, Arka Irfani, menjelaskan bahwa teknologi ini berawal dari riset fermentasi yang dipelajarinya saat kuliah di Institut Teknologi Bandung.
Melalui proses biologis, limbah kopi diolah menjadi lembaran material yang menyerupai kulit. Material ini memiliki karakteristik fleksibel, kuat, dan ramah lingkungan.
Produk yang dihasilkan tidak hanya terbatas pada kulit alternatif. Bell Living Lab juga mengembangkan papan material keras dan berbagai turunan lainnya. Saat ini, lebih dari 30 produk telah siap dipasarkan.
Startup ini bekerja sama dengan petani kopi dan pelaku industri roastery untuk mendapatkan bahan baku. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru dari sektor pertanian.
Teknologi AI Permudah Proses Visa Global
Sementara itu, SPUN menghadirkan inovasi berbasis kecerdasan buatan untuk menyederhanakan proses pengajuan visa. CEO SPUN, Christa Sabathaly, menjelaskan bahwa platform ini memiliki sistem analisis yang dapat memprediksi peluang persetujuan visa.
Melalui fitur Visa Approval Scoring, pengguna dapat mengetahui kemungkinan visa mereka diterima sebelum pengajuan resmi. Hal ini membantu mengurangi risiko penolakan yang sering merugikan secara finansial.
SPUN juga mengembangkan basis data yang mencakup ratusan kerangka persyaratan visa dari berbagai negara. Teknologi AI memungkinkan pemrosesan data secara cepat dan akurat, sehingga memudahkan pengguna individu maupun perusahaan.
Solusi ini sangat relevan di tengah meningkatnya mobilitas global tenaga kerja dan kebutuhan akan sistem administrasi yang efisien.
Target Kerja Sama dan Nilai Ekonomi
Pemerintah menargetkan keikutsertaan startup ini dapat menghasilkan puluhan pertemuan bisnis selama acara berlangsung. Deputi Kementerian Ekonomi Kreatif, Muhammad Neil El Himam, menyebutkan potensi kerja sama yang diincar mencapai 12 hingga 22 kesepakatan.
Nilai transaksi awal diperkirakan berada di kisaran USD 1 hingga 5 juta. Selain itu, partisipasi ini juga diharapkan meningkatkan visibilitas Indonesia di kancah global sebagai pusat inovasi teknologi.
Program Bekum Global Scale-Up sendiri telah menjaring 125 startup dari seluruh Indonesia. Setelah melalui proses kurasi berlapis, hanya empat startup terbaik yang dipilih untuk mewakili Indonesia di Tokyo.
Peluang dan Tantangan di Pasar Internasional
Keikutsertaan startup Indonesia di ajang global menunjukkan peningkatan daya saing inovasi lokal. Namun, ekspansi ke pasar internasional tetap menghadapi tantangan, termasuk perbedaan regulasi, budaya bisnis, dan kebutuhan pasar.
Jepang sebagai tujuan ekspansi memiliki standar tinggi dalam kualitas dan keberlanjutan. Oleh karena itu, inovasi yang dibawa harus memiliki nilai tambah yang jelas dan relevan.
Di sisi lain, meningkatnya perhatian global terhadap isu lingkungan dan efisiensi digital membuka peluang besar bagi startup Indonesia untuk bersaing.
Kesimpulan: Momentum Strategis untuk Ekosistem Startup Indonesia
Partisipasi empat startup Indonesia di SusHi Tech Tokyo 2026 menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi Indonesia di ekosistem teknologi global. Inovasi seperti material dari limbah kopi dan teknologi visa berbasis AI menunjukkan potensi besar yang dimiliki startup lokal.
Dengan dukungan pemerintah dan kolaborasi internasional, peluang untuk memperluas pasar dan menarik investasi semakin terbuka. Ke depan, keberhasilan ini dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan startup Indonesia di tingkat global.
baca juga”Mastercard Akuisisi Startup Stablecoin BVNK, Segini Nilainya“